Pengendalian Kualitas Bahu Jalan

Menjaga Mutu dari Bahu

 

Pemahaman masyarakat dan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) dalam membangun jalan dengan kualitas yang baik dan awet masih kurang memadai. Masyarakat cenderung memahaminya adalah melaksanakan pengerasan jalan, pemasangan paving, pengaspalan, rabat beton, sehingga kurang memperhatikan kelayakan bangunan pelengkap jalan sehingga pola pikir dan konsentrasi terhadap kualitas bangunan pelengkap juga kurang diperhatikan baik sejak tahap perencanaan, pelaksanaan maupun pemeliharaan. Padahal bangunan pelengkap jalan sangat menetukan kualitas dan keawetan konstruksi jalan.

Tema yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas bahu jalan agar badan jalan dan perkerasan menjadi stabil terhindar dari kerusakan akibat erosi dan longsor atau pergerakan tanah ke samping akibat beban lalu lintas yang ada.

Di Kabupaten Tangerang, di bawah fasilitasi Faskab Umar, strategi tersebut sudah dicoba dilaksanakan di Kec. Cisoka pada TA 2011, tepatnya di Ds. Jeungjing. Kemudian model ini juga dikembangkan dan diterapkan di Ds. Rancagede Kec.Gunung Kaler dan Ds.  Tipar Raya Kec. Jambe.

 

Strategi

Peningkatan kualitas bahu jalan memerlukan strategi dalam pelaksanaannya. Strategi itu diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat dan TPK bahwa kita akan membangun konstrusksi jalan yang benar, bukan sekedar hampar batu atau kucurkan aspal. Sosialisasi juga disampaikan kepada mayarakat dan TPK nama-nama bagian dari konstruksi jalan termasuk bangunan pelengkap, ukuran dan persyaratan teknis serta fungsinya atau manfaatnya dari masing-masing bagian konstruksi jalan tsb serta resiko teknisnya dan kerugian masyarakat bila persyaratan teknis tidak dilaksanakan. Sosialisasi sanksi dari program apabila kualitas hasil pelaksanaan dinilai buruk.

Selanjutnya perlu dilakukan identifikasi kebutuhan lebar lahan agar syararat minimal lebar bahu (min.0.5 m) jalan dipenuhi.

Hal yang tak kalah penting adalah musyawarah dengan pemilik lahan, ahli waris, masyarakat dan pemerintah desa serta BPD untuk menyepakati penyelesaian pembebasan lahan, dibuat secara tertulis sesuai ketentuan yang berlaku. Ini dijalankan untuk mencegak terjadinya sengketa lahan di kemudian hari.

Sementara itu, tim teknis harus membuat alternative design perkuatan bahu jalan, yang mencakup gambar teknis, jenis material dan perkuatan lereng yang dibutuhkan. Jenis material sebaiknya dari bahan sirtu agar bahu jalan kuat,padat namun memiliki tingkat porositas yang baik sebagai drainase atau saringan atau resapan air dari permukaan jalan.

Perkuatan lereng sebaiknya dari bahan yang mudah didapat dari dalam desa dan murah seperti bambu atau dan tanaman vegetatip.

Dalam hal terjadi kesalahan dalam design awal dimana bahu jalan belum direncanakan dengan baik, maka agar dilakukan revisi untuk memastikan konstruksi jalan dilengkapi dengan bahu jalan yang kuat dan memenuhi persyaratan teknis.

Proses sertifikasi hasil pelaksanaan dan proses pencairan dana menjadi media untuk memastikan kualias bahu jalan memenuhi persyaratan. Sedangkan untuk sumber pendanaan sebaiknya dari swadaya atau kombinasi swadaya dan PNPM MPd atau dari surplus hasil  lelang atau dari efesiensi.

 

Hasil Pelaksanaan

 

Hasilnya cukup baik dimana lebar bahu jalan minimal dipenuhi, material dari bahan sirtu, perkuatan dengan cerucuk bambu (patok dan anyaman), dipasang di beberapa tempat yang kritis. Biaya dari surplus hasil lelang dan dari efesiensi melalui  Revisi karena design awal tidak ada perencanaan bahu jalan yang memadai. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp.7.5 juta.

Secara umum, masyarakat dan TPK apabila dilakukan sosialisasi yang efektif sejak awal, maka dapat memahami  pentingnya kualitas bahu jalan dan dengan kesadaran yang baik, mereka akan melaksanakannya untuk kebutuhan mereka sendiri. Para fasilitator  membantu melakukan identifikasi dan alternative jenis perkuatan  serta pengawasan dalam pelaksanaannya. Proses sertifikasi hasil pekerjaan dan proses pencairan dana menjadi media untuk memastikan kualitas bahu jalan memenuhi persyaratan teknis. (Umar, Fastekkab Tangerang)

 

Hasil Kegiatan di Desa Jeungjing Kec. Cisoka TA 2011

Hasil kegiatan di Ds. Rancagede Kec. Gunungkaler

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s