UPK Kelapa Dua, Tangerang : Perjuangan di Tengah Kesenjangan dan Ketergusuran

Pengurus UPK Kelapa Dua, Kab. Tangerang

Pengurus UPK Kelapa Dua, Kab. Tangerang (Dok. UPK Kelapa Dua)

Ketika kita memasuki wilayah Kecamatan Kelapa Dua, kita akan melihat bangunan-bangunan mewah, ruko, perumahan, apartemen serta sentra bisnis kelas atas yang tentu saja bercita-rasa mewah.  Para pengembang bermodal raksasa memang mengincar wilayah menggiurkan yang cukup dekat dari Jakarta itu. Tak pelak lagi, dari waktu ke waktu lahan masyarakat setempat semakin sempit karena tergusur oleh pembangunan. Di luar kawasan mewah yang berdiri megah, terlihat kondisi yang cukup kontras. Perkampungan yang rapat  penduduk, berdesakan dan sarana kehidupan sosial yang sangat berbeda. Di gang-gang sempit itulah kehidupan masyarakat lapis bawah mengendus.

Berdasarkan data yang ada, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang Prov. Banten merupakan pemekaran dari Kecamatan Curug, berdiri sejak tanggal 13 Maret 2007 terdiri dari 5 (lima) kelurahan dan 1 (satu) desa dengan luas wilayah + 2927 Ha, berpenduduk 117.322 jiwa dengan kepadatan + 38 jiwa/Ha. Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kota Tangerang, sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Pagedangan dan Kecamatan Legok, sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kecamatan Curug, sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kecamatan Serpong Utara.

“Di sini kita memang berhadapan dengan kondisi kesenjangan. Bahkan tak jarang terlihat  pemandangan yang cukup ironis, orang-orang menjadi pekerja di bekas lahannya sendiri yang sudah mereka jual kepada orang luar,” tutur Rini Sosaeni membuka perbincangannya di raung kerjanya, Kantor UPK Kelapa Dua, Tangerang, baru-baru ini.  Ia menjelaskan, selama ini masyarakat Kecamatan Kelapa Dua relatif sudah heterogen, terdiri dari berbagai suku, agama,ras dan sosial budaya serta jenis pekerjaan.

Rini yang insinyur lulusan IPB tahun 1983 ini menuturkan, Kecamatan Kelapa Dua merupakan daerah pemukiman, perdagangan dan pertanian. Namun saat ini dengan pesatnya pembangunan perumahan oleh grup pengembang terkemuka sehingga lahan pertanian sudah habis, sehingga usaha yang sangat menonjol secara keseluruhan adalah usaha perdagangan dan jasa.

Dok. UPK Kelapa Dua

Dok. UPK Kelapa Dua

“Namun selama ini masyarakat  dapat hidup berdampingan secara harmonis,” tambahnya, sehingga pelaksanaan program dapat berjalan dengan baik. Bahkan UPK Kelapa Dua dibawah kepemimpinannya telah mendapat predikat UPK Terbaik tingkat Provinsi Banten tahun 2012 lalu.

UPK Kelapa Dua yang berdiri 9 Agustus 2009 ini  punya  keinginan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui   pembinaan kegiatan ekonomi yang berlandaskan pada  azas keberpihakan kepada orang miskin.  Hingga bulan Mei 2013 perguliran SPP UPK Kelapa Dua sudah mencapai Rp.  5.148.500.000,-  Namun kendala bukan tak pernah dialami UPK ini.  Pada awalnya, pengembalian

SPP selalu tepat waktu, bahkan mencapai 100% tanpa tunggakan. Namun akibat terjadinya pembebasan lahan, Rini dan rekan-rekannya sempat kebingungan mencari  anggota kelompok SPP yang menunggak.  Bukan hanya orangnnya yang tidak ditemukan, bahkan rumah yang bersangkutan sudah tidak ada lagi dan lahannya sudah berganti pemilik.

Untuk kegiatan sarana  prasarana, dari penyaluran BLM tekah menghasilkan sejumlah sarana parasana seperti  jalan paving block, posyandu, serta kegiatan pelatihan menjahit dan komputer. Sambutan masyarakat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. (IEC Banten)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s