Apa Kabar UPK Phase Out?

Lama tak terdengar, apa kabar UPK di wilayah yang kini sudah tak mendapat fasilitas pendampingan dan kucuran dana atau phase out? Masihkah setia berkiprah ataukah telah lenyap ditelan bumi? Mari kita kunjungi salah satunya, yakni UPK Kecamatan Walantaka, Kota Serang.

Jumhadi Ketua UPK_LKM walantaka

Jumhadi

Pemekaran wilayah Kabupaten Serang yang memunculkan Kota Serang di Provinsi Banten pada tahun 2008 ‘memaksa’ UPK Kecamatan Walantaka berpisah dengan PNPM MPd. Otomatis UPK Walantaka yang area kerjanya masuk dalam wilayah hukum Kota Serang menjadi UPK phase out, di mana pendanaan BLM dan pendampingan fasilitator dari program harus terhenti. Padahal para pengurus UPK waktu itu masih belum cukup siap secara teknis, apalagi secara keuangan. Namun takdir harus mereka terima. Pilihan satu-satunya hanyalah berjuang untuk tetap hidup dan mampu melayani masyarakat yang masih berharap dari keberadaan dan kegiatan UPK yang berdiri sejak tahun 2003 itu.
Sejak dinyatakan phase out, UPK yang diketuai Jumhadi bersama rekan-rekannya sibuk putar otak untuk mencari sumber pendanaan baru untuk mendukung dana SPP yang tengah bergulir. Modal pada saat phase out hanya sekitar Rp. 500 juta. Fasilitas kerja yang ada dari warisan program pun seadanya saja di kantor masih mengontrak.
Terpikirkah di benak Jumadi dan kawan-kawan untuk mencari dana pinjaman melalui bank. Namun sebelumnya UPK ini harus membentuk lembaga baru yang dapat diterima oleh lembaga keuangan pemberi pinjaman, dalam hal ini Bank.
Maka pada pertengahan tahun 2009, terbentuklah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Mandiri Kota Serang yang digawangi para pengurus UPK dan didukung oleh pelaku-pelaku kecamatan lainnya serta pihak Kantor Kecamatan. Lembaga baru ini semacam koperasi yang memenuhi syarat-syarat hukum dan administasi yang ditetapkan oleh Negara, antara lain akte pendirian dari notaris, SITU/SIUP, NPWP serta berkas-berkas lainnya.

Luncurkan KUM
Setelah melalui proses yang cukup menguras tenaga dan pikiran, bulan April 2010 mereka berhasil mendapat pinjaman dari Bank Syariah Mandiri  sebesar Rp 1,08 miliar. Dari duit yang terkucur itu LKM pun segera mewujudkan cita-cita mereka meluncurkan produk kredit rakyat yang diberi nama Kredit Usaha Mandiri (KUM).
KUM memang berbeda dengan SPP yang biasa mereka kelola. Bila SPP terbatas pada kelompok perempuan di kecamatan , maka KUM ini memberi kredit kepLKM Walantaka menerima kunjungan PSF (1)ada perorangan tanpa memandang jenis kelamin dan memperluas lingkup kerjanyadi seluruh wilayah Kota Serang. Jika SPP tanpa agunan, maka KUM memberi syarat adanya jaminan yang dapat berupa sertifikat rumah/tanah atau BPKB kendaraan bermotor. Namun prinsipnya tetap sebagai tambahan modal usaha kerakyatan.
“Cara mengajukan cukup sederhana, peminat cukup mengisi aplikasi yang disediakan. Kemudian dilakukan verifikasi untuk memeriksa kelayakan administrasi dan fakta usaha calon nasabah,” kata Jumadi.
Nilai yang disalurkan kepada nasabah berkisar dari Rp. 10 juta – hingga 50 juta.
“Alhamdulilah, KUM mendapat sambutan positif dari masyarakat Kecamatan Walantaka. Dan kami dapat menghidupi kegiatan sehari-hari, dapat menutupi operasional dan insentif pengurus,” ujar Jumadi.
Penglolaan dana KUM menurut Jumadi, dipisahkan dari SPP yang berasal dari program. Namun pengelolaan manajemen keuangan dan pelaporan tetap berjalan dengan mengadopsi tata cara dan prosedur PNPM Mandiri Perdesaan.
“Dari program yang telah kami ikuti sekian lama, cukup banyak ilmu yang kami peroleh, terutama soal administasi keuangan, yang mana pola yang diajarkan oleh program sangat baik untuk diterapkan dalam kegiatan KUM ini. Awalnya kami memang terpaksa menerima phase out, tapi ada hikmahnya” kata Jumadi.
Sebagai wujud dari kelanjutan program, LKM Kecamatan Walantaka pun menetapkan visi : “Menuju masyarakat Walantaka yang Mandiri”. Sedangkan misinya : “Meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pembinaan ekonomi yang berlandaskan pada asas keberpihakan kepada masyarakat miskin.”
“Kami juga masih menggunakan logo sapu lidinya si Kompak, karena akarnya LKM ini tidak lain adalah PNPM Mandiri Perdesaan,” kata Jumhadi menjelaskan lebih lanjut.
Pada saat ini LKM Walantaka sedang memproses pengajuan pinjaman Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir (LPDB) kepada Kementerian Koperasi RI.
“Kami mengajukan Rp. 2 M. Tapi mungkin yang dapat diperoleh sekitar Rp 1 milyar sampai Rp.1,5 miliar,” ungkap Juhmadi yang rajin melakukan browsing di internet untuk mencari informasi ini..
 

Kelompok Binaan
Kelompok binaan LKM Walantaka menerima kunjungan PSF (5)Salah satu kelompok binaan LKM yang dinilai berhasil adalah PD Hasil Bumi yang beralamat di desa Nyapah. Kelompok yang anggotanya berjumlah 10 orang ini menjalankan usaha pengolahan singkong menjadi keripik dengan berbagai rasa dan aroma.  Ibu Rohayanah selalu Ketua Kelompok Hasil Bumi menuturkan, kelompok mereka sudah menjadi peminjam SPP sejak tahun 2004, dengan nilai pinjaman waktu itu hanya Rp. 500 ribu per orang.
“Sekarang melalui LKM kami bisa pinjam  Rp. 10 juta per orang, sehingga usaha kelompok dapat ditingkatkan dengan menggunakan mesin dan alat-alat pengolahan lain yang berkapasitas tinggi, sekitar 1,5 ton/hari” ujar Ibu Rohayanah. Keripik tersebut diberi kemasan merk “Pahri Putra Mandiri” dan dijual dengan harga 15 ribu/kg. Anggota kelompok pun turut bekerja dalam pengolahan home industry itersebut.
Soal pemasaran produk, Kelompok PD Hasil Bumi tidak khawatir, karena pelanggan tetap sudah ada dan langsung mengambil barang dari tempat produksi di Desa Nyapah. Disamping itu ada juga tenaga pemasaran yang berkeliling Kota Serang dan sekitarnya, bahkan keluar wilayah Provinsi Banten.
Bahan baku singkong  mereka beli dari luar kota dengan harga Rp. 1500/kg.
Demikianlah, untuk meraih kemandirian dan kemajuan, memang harus punya impian dan berjuang keras untuk meraihnya.

(Liputan IEC, Banten)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s