CATATAN AKHIR TAHUN 2013

Sejumlah Kejutan dan Sebuah Harapan
(Oleh Scorpiansyah, IEC Specialist RMC-2 Banten)

Nama Banten mendadak menjadi perbincangan di level nasional, dan celakanya semua itu bukan karena prestasi yang membanggakan, sebaliknya yang berkembang justru kabar tentang carut-marut kehidupan, kemiskinan yang akut, korupsi yang sistematis, hancurnya infrastruktur penunjang aktifitas serta peristiwa peristiwa mengenaskan lainnya.
Sedikit banyak, kalangan pelaku program ini ikut terhenyak. Ketika setumpuk harapan mulai ada bagi kehidupan yang lebih baik, pesimisme pun begitu nyata. bagaimana tidak, program yang selama ini dinilai berhasil dan banyak membantu masyarakat di desa-desa ini akan mencapai ujung kegiatannya pada tahun 2014. Apa jadinya bila PNPM Mandiri Perdesaan “habis kontrak”, itulah yang kira-kira dikhawatirkan masyarakat dan pelaku program di tingkat keamatan dan desa.
Diantara kemerosotan hidup yang masif, kemiskinan di perdesaan Banten ternyata mengalami penurunan. Kita yakini program ini memberi kontribusi yang sangat signifikan bagi naiknya taraf kesejahteraan di desa itu. PNPM Mandiri Perdesaan setidaknya telah membuka mata masyarakat desa tentang bagaimana proses sebuah pembangunan hingga menghasilkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Artinya, ada keterlibatan masyarakat yang riil di dalamnya.
Program ini bukanlah proyek pemerintah yang ditenderkan sebagaimana pekerjaan-pekerjaan lainnya, sehingga tidak memungkinkan munculnya para penggerogot anggaran yang ujung-ujungnya mengenakan rompi oranye di gerbang KPK.. Sekalipun diakui, program ini bukan tanpa masalah dan penyelewengan. Bahkan diantaranya sudah menjadi urusan polisi dan kejaksaan hingga pengadilan.
Sementara perjalanan program sejak dicanangkan hingga di penghujungnya, yang walaupun terus-menerus melibatkan masyarakat, masih saja ditemukan pelaku yang belum cukup memahami prinsip dan prosedur program. Ketika program ini dijadikan milik masyarakat, masih sering ditemukan warga yang mengharapkan imbalan dari aktifitasnya selaku pelaku di tingkat kecamatan.
Padahal secara ‘khittah’nya, masyarakat sebagai pelaku melakukan pembangunan untuk kalangannya sendiri dan posisi pemerintah hanya sebagai pihak yang memfasilitasi. Jadi ketika kita misalnya menambah dapur di rumah kita, maka kita tak akan membayar gaji buat diri selaku pemilik rumah. Tetapi justru kita berusaha membangunnya dengan biaya rendah dan mutu yang kalau bisa lebih baik. Dengan, tentu saja mengikuti aturan, memegang erat kesepakatan dan memanusiakan manusia.
Begitulah, tak ada yang perlu dihentikan dalam melakukan sosialisasi program di tiap tahapan. Bagaikan jadi penumpang pesawat terbang, pramugari selalu menjelaskan cara mengenakan sabuk pengaman, sekalipun kita merasa sudah hafal lantaran sudah berkali-kali naik pesawat. Begitu pun juga Prinsip PNPM Mandiri Perdesaan, harus tetap kita simak walaupun mungkin sudah merasa hafal..
Dengan demikian, kejutan apapun yang terjadi dalam setiap kiprah kita tak akan menggoyahkan, karena kita telah terbiasa dan punya keyakinan untuk menjadi bangsa yang maju. Dan tugas kita adalah menjadi fasilitator yang membuat mudah, buka ‘sulititator’ yang menjadikan segala sesuatunya sulit. (*)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s